Latar Belakang
Karya sastra dari negara-negara di Asia tenggara setelah
kemerdekaan berkembang secara sendiri-sendiri. Ikatan yang ada di
antara mereka hanyalah media pengucapannya yaitu bahasa
Indonesia/Melayu. Atas kesadaran sebagai bangsa serumpun yang mendiami
wilayah ini, sebenarnya telah ada usaha dari para sastrawan sejak tahun
1973, Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia (DBP) bersama-sama Gabungan
Persatuan Penulis Nasional Malaysia (GAPENA) telah melaksanakan Seminar
Kesusastraan Nusantara pada tahun tersebut. Acara tersebut kemudian
diikuti dengan Siri Pertemuan Sastrawan Nusantara sejak tahun 1977 yang
diadakan secara bergiliran di Singapura, Indonesia, Malaysia, dan
Brunei Darussalam. Pertemuan tersebut dihadiri oleh penulis-penulis
dari Thailand dan Filipina. Hasil kegiatan tersebut melalui GAPENA
telah didirikan Majlis Sastrawan Nusantara pada tahun 1994 yang
dianggotai oleh badan-badan bahasa dan sastera bukan kerajaan atau
pemerintah. Badan ini merupakan penggerak kesusastraan tidak resmi bagi
negara masing-masing. Oleh sebab itu, dari pihak pemerintah atau
kerajaan membentuk badan resmi guna mengarahkan segala kegiatan
pemasyarakatan, apresiasi, penelitian dan penerbitan hasil sastra
berbahasa Indonesia/Melayu. Untuk bidang bahasa telah didirikan MABBIM
atau Majelis Bahasa Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, sebuah
majelis yang merancang dan memantau perkembangan bahasa
Indonesia/Melayu. Untuk bidang sastra diwujudkan MASTERA atau Majelis
Sastra Asia Tenggara yang dipersetujui pada asasnya oleh tiga negara
pendiri (Brunei Darussalam, Indonesia, dan Malaysia) dalam Kongres
Bahasa Melayu Sedunia pada 25 Agustus 1995.
Sidang ke-1 Mastera dilaksanakan di Balai Tun Syed Nasir, Dewan Bahasa
dan Pustaka, Kuala Lumpur pada 12 Agustus 1996. Sidang ke-2 Mastera
diadakan di Hotel Pemandangan Sungai, Gadong, Brunei Darussalam pada
5—7 Mei 1997, dan Sidang ke-3 berlangsung di hotel Primula, Parkroyal,
Kuala Trengganu, Terengganu Darul Iman pada 4--6 Mei 1998.
Pendiri Mastera antara lain Tn. Haji Alidin Haji Othman (Brunei
Darussalam), Dr. Hasan Alwi (Indonesia), dan Tn. Haji A. Aziz Deraman
(Malaysia).
Visi Misi
Tujuan
| a) |
merapatkan hubungan, pengertian dan kerjasama kesusastraan bagi memajukan dan mengembangkan kesusastraan Indonesia/Melayu di arah menjadi warga sastera dunia yang berwibawa |
| b) |
menyelaraskan kegiatan dan penelitian kesusastraan Indonesia/Melayu secara terpadu
|
| c) |
mengusahakan peluang-peluang bersama untuk para sastrawan memajukan bakat, penterjemahan, penerbitan, dan pengiktirafan terhadap pencapaian mutu ciptaan sastra
|
| d) |
memantapkan penyebaran dan penggunaan bahasa Indonesia/Melayu sebagai wahana komunikasi, media ilmu pengetahuan dan media pengucapan seni ke peringkat rantau dan antarbangsa
|
| e) |
melaksanakan segala butiran yang terkandung dalam piagam majelis
|
Logo dan Lagu
Jenis Kegiatan
| a) |
Persidangan / Seminar / Kuliah
- Kuliah Kesusastraan Bandungan
- Persidangan Pengajaran dan Pembelajaran Sastera Serantau
- Memperkenalkan Tokoh/Sasterawan Serantau ke Sekolah
- Seminar Antarbangsa Kesusastraan Asia Tenggara (SAKAT)
|
| b) |
Program Penataran
Program Penulisan Mastera
|
| c) |
Penerbitan Berkala / Penerbitan Hasil Pengkajian / Penelitian / Penyusunan
- Sisipan Lembaran Mastera
- Jurnal Pangsura
- Penerbitan Hasil Kajian
- Penelitian
- Penyusunan Penelitian
|
| d) |
Hadiah / Anugerah / Penghargaan
- Hadiah Sastera Mastera
- Anugerah Sastera Mastera
- Penghargaan Sastera Mastera
|
|